Kripik Bayam Madani (Kripik Bayani) adalah produk olahan camilan yang dihasilkan dari bayam segar yang ditanam di Mini Labfarm pesantren Al-Madani. Labfarm ini merupakan laboratorium pertanian skala kecil yang menjadi tempat para santri belajar dan mempraktikkan ilmu bercocok tanam. Melalui program ini, santri dididik untuk memahami siklus tanaman, teknik perawatan, hingga cara memanen bayam yang sehat dan berkualitas tinggi. Tanaman bayam yang ditanam menggunakan metode organik, sehingga bebas dari pestisida kimia. Hasil panen dari Labfarm inilah yang menjadi bahan utama pembuatan Kripik Bayani, sebagai produk yang sehat, lezat, dan memiliki nilai ekonomi.

Proses pembuatan Kripik Bayani dimulai dari pemetikan bayam yang telah mencapai masa panen. Daun bayam yang dipilih adalah daun-daun yang segar dan berwarna hijau pekat, tanda bahwa kandungan nutrisinya masih optimal. Setelah dipetik, daun bayam dicuci bersih untuk menghilangkan kotoran dan sisa tanah yang menempel. Proses pencucian ini dilakukan dengan hati-hati agar daun tidak rusak. Selanjutnya, daun bayam yang sudah bersih direndam dalam air garam sebentar, untuk menambah cita rasa alami pada kripik tanpa harus menggunakan banyak bumbu tambahan.

Setelah proses perendaman, daun bayam dikeringkan hingga tidak ada lagi sisa air yang bisa menyebabkan kripik menjadi lembek. Pengeringan dilakukan dengan menggunakan serbet bersih atau tisu dapur agar kelembapan daun hilang secara maksimal. Kemudian, daun bayam dilumuri adonan tepung tipis-tipis yang telah diberi sedikit bumbu seperti bawang putih, garam, dan ketumbar untuk menambah cita rasa. Adonan tepung yang tipis membuat hasil akhir kripik lebih renyah namun tetap menjaga rasa asli dari bayam.

Langkah terakhir adalah proses penggorengan yang dilakukan dengan minyak panas dan api kecil, agar kripik matang merata dan tidak gosong. Setelah berwarna kuning keemasan, kripik diangkat dan ditiriskan hingga benar-benar kering. Kripik Bayani siap disajikan di meja makan santri atau dikemas yang menarik sehingga siap dijual di kantin pesantren sebagai camilan sehat hasil karya santri Al-Madani. Produk ini bukan hanya menjadi alternatif makanan sehat, tetapi juga merupakan hasil dari praktik tanam yang dilakukan para santri, sekaligus mereka mencoba untuk mengolah agar dapat menjadi potensi produk lokal yang dihasilkan pesantren.

Bagikan :