Sinjai, 23 November 2024 – Pesantren Sains dan Teknologi Al-Madani Sinjai sukses menyelenggarakan ujian lisan pesantren untuk pertama kalinya selama tiga hari, mulai 20 hingga 23 November 2024. Ujian ini akan menjadi salah satu agenda tahunan pesantren sebelum pelaksanaan ujian tulis untuk mengukur kemampuan santri dalam bidang bahasa dan keagamaan.

Ujian lisan ini meliputi empat kategori utama: Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Al-Qur’an, serta praktik ibadah. Setiap kategori dirancang untuk menguji kompetensi santri dalam penguasaan bahasa, al-Qur’an dan praktik ibadah. Di dalam ruang ujian, santri diuji oleh dua hingga tiga penguji yang telah ditunjuk oleh panitia sesuai keahlian masing-masing, dengan durasi pengujian sekitar 30 hingga 45 menit per santri.

Pembagian Ujian Lisan

  1. Ujian Lisan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris
    Ujian ini bertujuan untuk menguji kemampuan santri dalam percakapan sehari-hari, pemahaman bahasa, serta ilmu alat. Santri diminta menjawab pertanyaan penguji dengan lugas dan percaya diri, menggunakan bahasa yang tepat.
  2. Ujian Lisan Al-Qur’an
    Fokus pada kemampuan membaca Al-Qur’an secara benar, sesuai kaidah tajwid. Selain itu, penguji juga mendalami pemahaman santri terhadap teori ilmu tajwid yang telah dipelajari.
  3. Ujian Praktik Ibadah dan Hafalan Doa
    Pada bagian ini, santri diuji dalam praktik ibadah seperti tata cara salat, wudu, dan tayammum. Selain itu, penguji menguji hafalan doa-doa harian yang menjadi bekal santri dalam kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan Ujian Berjalan Lancar

Pimpinan pesantren Al-Madani, Ustaz Nur Najman Marzuki, M.A., menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran pelaksanaan ujian lisan yang baru pertama kali dilaksanakan tahun ini. “Alhamdulillah, seluruh rangkaian ujian lisan berjalan dengan baik. Ini adalah salah satu upaya kami untuk memastikan santri memiliki kemampuan yang mumpuni, baik dalam aspek bahasa maupun ibadah harian mereka,” ungkapnya.

Para penguji pun mengapresiasi semangat para santri dalam mengikuti ujian. “Meskipun beberapa santri terlihat gugup dan kebingungan dalam menjawab pertanyaan penguji, secara umum mereka mampu menunjukkan semangat dan berusaha untuk bsia, terutama dalam penguasaan bahasa dan praktik ibadah,” kata Ustadz Isnaeni.

Dengan berakhirnya ujian lisan ini, diharapkan santri semakin terasah kemampuannya dalam menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan ke depan, baik di bidang keterampilan berbahasa asing maupun dalam pengamalan nilai-nilai keislaman.

Bagikan :