Bulukumba — Dalam rangka meningkatkan pemahaman orang tua terhadap potensi dan karakter belajar anak, Pesantren Sains dan Teknologi Al-Madani Sinjai menyelenggarakan Sosialisasi STIFIn pada Selasa, 17 Februari 2026, bertempat di Masjid Al-Amir Pantai Panrang Luhu, Kabupaten Bulukumba. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian acara Tarhib Ramadhan dan Family Gathering Keluarga Besar Pesantren yang diikuti oleh santri, wali santri, guru, pengasuh, dan karyawan pesantren.
Acara ini dihadiri oleh santri, wali santri, guru, pengasuh, dan karyawan pesantren setelah kegiatan olahraga pagi dan sarapan bersama. Sosialisasi dibawakan oleh Solver Alif dengan tema “Peran Orang Tua dalam Meningkatkan Semangat Belajar dan Prestasi Anak Berdasar Potensi Genetik.”
Dalam materinya, Solver Alif menjelaskan konsep dasar STIFIn sebagai pendekatan untuk memahami potensi genetik individu secara lebih mendalam berdasarkan lima “mesin kecerdasan”, yakni Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Instinct. Metode ini membantu orang tua dan pendidik mengenali kelebihan bawaan setiap anak sehingga dapat memaksimalkan cara belajar, komunikasi, dan dukungan yang sesuai dengan karakter alami mereka. Konsep ini menekankan bahwa setiap anak memiliki potensi genetik unik yang jika dipahami akan memperkuat motivasi belajar dan prestasi akademik tanpa memaksakan pola umum yang tidak sesuai dengan pribadi mereka.
Solver Alif juga memaparkan bagaimana orang tua bisa menerapkan wawasan STIFIn dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan lingkungan rumah yang lebih kondusif bagi belajar, mengarahkan bakat anak secara tepat, serta membangun komunikasi yang efektif sesuai kecerdasan dominan masing-masing anak. Hal ini menjadi modal penting dalam membantu santri dan peserta didik di pesantren untuk berkembang secara optimal.
Para wali santri menunjukkan antusiasme tinggi selama sesi tanya jawab, dan banyak dari mereka mengatakan bahwa materi ini memberikan wawasan baru dalam memahami cara belajar dan perkembangan anak. Mereka menyadari bahwa peran orang tua bukan sekadar mendampingi secara fisik, tetapi juga harus memahami potensi yang dimiliki anak untuk menyemangati mereka mencapai prestasi sesuai kemampuan unik masing-masing.
Kegiatan sosialisasi ini kemudian dilanjutkan dengan sesi Tudang Sipulung antara wali santri dan pengasuh pesantren, di mana berbagai masukan dan aspirasi disampaikan untuk meningkatkan kualitas pembinaan santri di pesantren ke depan.
Sosialisasi STIFIn ini menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan keluarga besar pesantren, dan dinilai berhasil membuka wawasan baru bagi orang tua dalam mendukung proses belajar anak, sekaligus mempererat hubungan silaturahmi antar orang tua dan pihak pesantren.