Sinjai, 18 September 2024 – Pesantren Sains dan Teknologi Al-Madani Sinjai memiliki empat program utama yang akan menjadi pilihan dan bekal bagi santri. Salah satunya adalah program tahfidz Al-Qur’an yang menjadi bagian integral dalam pendidikan santri. Program ini bertujuan mencetak generasi Qur’ani yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki hafalan Al-Qur’an yang kuat sebagai dasar spiritual dan moral.

Program Tahsin Sebagai Dasar Sebelum Tahfidz

Sebelum mengikuti program tahfidz, seluruh santri diwajibkan mengikuti program tahsin terlebih dahulu. Program tahsin ini dirancang untuk memastikan setiap santri memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an yang baik dan benar, sesuai dengan kaidah tajwid. Santri yang belum memenuhi standar yang ditetapkan oleh pengajar dalam program tahsin tidak diizinkan untuk langsung mengikuti program tahfidz.

“Program tahsin ini sangat penting untuk membentuk pondasi yang kuat bagi santri, sehingga mereka dapat melanjutkan hafalan Al-Qur’an dengan baik. Pembacaan Al-Qur’an yang tepat akan memudahkan mereka dalam proses menghafal dan menjaga hafalan,” ungkap Ustadz Khaeder Dzakwan, salah satu pengajar tahsin di Pesantren Al-Madani.

Pelaksanaan Program Tahfidz dan Kegiatan Rutin

Setelah dinyatakan lulus dari program tahsin, santri diizinkan untuk mengikuti program tahfidz. Dalam program ini, santri memiliki target hafalan sesuai level kelasnya yang harus tercapai sebelum lulus dari pesantren. Kegiatan tahfidz tidak hanya berfokus pada menghafal, tetapi juga menjaga hafalan (muroja’ah) yang telah didapatkan.

Santri diwajibkan untuk menyetorkan hafalan secara rutin setelah sholat Subuh dan setelah sholat Maghrib. Setoran hafalan ini dilakukan di hadapan ustadz yang membimbing mereka secara langsung. Selain itu, sesi murojaah juga diadakan sebagai bagian dari upaya memperkuat hafalan santri agar tidak mudah lupa.

“Setelah sholat Subuh dan Maghrib, para santri menyetorkan hafalannya secara bergiliran. Kami memberikan bimbingan dan motivasi agar mereka tetap semangat dalam menyelesaikan target hafalan. Proses murojaah juga sangat penting, karena tanpa pengulangan yang teratur, hafalan akan mudah hilang,” jelas Ustadz Isnaeni, salah satu pembimbing tahfidz di Pesantren Al-Madani.

Target Minimal dan Penghargaan

Pesantren Sains dan Teknologi Al-Madani menargetkan setiap santri minimal menghafal 5 juz untuk 3 tahun pertama dan ditambah 5 juz lagi untuk 3 tahun kedua, sehingga mereka diharuskan menghafal minimal 10 juz sebelum menyelesaikan pendidikan 6 tahun di pesantren.. Bagi santri yang mencapai target ini bahkan lebih, pesantren memberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas usaha dan dedikasi mereka. Adapun santri yang memiliki minat dan kemampuan lebih dalam menghafal maka disiapkan kelas Takhassus dengan target hafalan 30 juz (mutqin).

“Target 5 juz adalah standar minimal di setiap jenjang pendidikan, namun kami selalu mendorong santri untuk menghafal lebih dari itu atau 30 juz bagi yang memiliki kemampuan lebih. Hafalan Al-Qur’an adalah bekal yang sangat berharga untuk kehidupan mereka, baik di dunia maupun akhirat,” kata Ustadz Najman, Pimpinan Pesantren Al-Madani.

Membangun Generasi Qur’ani yang Unggul

Dengan adanya program tahfidz yang terstruktur dan disiplin seperti ini, Pesantren Sains dan Teknologi Al-Madani Sinjai berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga kokoh dalam nilai-nilai agama melalui hafalan Al-Qur’an. Pesantren ini berkomitmen untuk terus mendidik santri-santrinya agar menjadi pribadi yang unggul secara intelektual dan spiritual.

Program tahfidz ini diharapkan dapat menjadi salah satu modal penting bagi santri dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama yang kokoh.

Bagikan :